Sunday, May 4, 2008

Meningkatkan Mutu Pendidikan


MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI INDONESIA
( Sebuah rangkuman dua tulisan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan)
Estu Retnaningtyas dalam tulisannya berjudul “Standarisasi Mutu Pendidikan” dan I Nengah Suparta yang berjudul “Orientasikan Proses Pendidikan pada Seleksi”, mengambil latar belakang yang sama yaitu sistem pelulusan siswa masih meninggalkan kerikil yang mengganjal insan pendidikan di Indonesia. Kedua penulis melihat standarisasi mutu lulusan masih dilaksanakan tidak konsisten oleh Pemerintah yang ditandai dengan adanya konversi nilai yang tidak adil dan pembobotan pada tiap daerah yang berbeda pada proses pelulusan siswa, sehingga menimbulkan ketidakadilan dan diskriminasi. Adanya inkonsistensi standar ini malah mengaburkan tujuan awal dari peningkatan mutu pendidikan.

Baik Estu dan Suparta memandang mutu pendidikan masih dilihat hanya dari persentase kelulusan saja, yang berarti masih dalam domain kognitif, padahal penilaian dengan melihat persentase kelulusan saja baru merupakan penilaian formalitas dan bukan pada realitas. Hal ini menyebabkan standar mutu pendidikan di Indonesia menjadi semacam kamuflase saja.
Estu dan Suparta pada bagian lain dari tulisannya berpandangan berlainan tentang peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Estu berpendapat, peningkatan kualitas output pendidikan nasional melalui penerapan standar mutu tidak dapat ditunda lagi karena ini akan memberikan rasa keadilan, tetapi sebelumnya harus didahului oleh upaya-upaya peningkatan kualitas manajemen, Guru dan infrastruktur pendidikan secara signifikan.
Masih menurut Estu penilaian kualitas pendidikan selain dikembalikan kepada Masyarakat, juga harus diberikan kepada Depdiknas dan Institusi Independen lainnya dan Guru sebagai insan pendidik harus diberikan otonomi untuk memberi nilai yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara kontinyu dan berkesinambungan.
Sedangkan I Nengah Suparta melihat mutu pendidikan dapat dipandang lebih representatif jika diorientasikan pada kebutuhan seleksi, sehingga menggiring insan pendidik mengarahkan sistem pada kemampuan yang real. Kemajuan sistem pendidikan dapat diharapkan jika proses seleksi dilaksanakan pada kemampuan nyata pemegang ijazah bukan pada penampilan ijazahnya.
Estu dan Suparta berpendapat yang sama tentang perlunya sistem penilaian bukan pada domain kognitifnya saja tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik serta kemampuan adaptasi terhadap lingkungan. Dalam melaksanakan standarisasi lulusan yang “achievable” (dapat dijalankan) pelaksanaannya harus jujur, transparan dan komprehensif. Kedua penulis juga berpendapat bahwa standarisasi mutu pendidikan akan lebih baik dikorelasikan dengan seleksi penerimaan siswa pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, malah Suparta menambahkan kemampuan akademik siswa yang baik dapat diarahkan ke SMA dan yang kurang ke SMK Kejuruan.
Dari kedua tulisan dapat disimpulkan bahwa latar belakang penulisan berada dalam isu yang sama, penilaian kelulusan mestinya dapat menjangkau ranah kognitif, afektif dan psikomotorik secara kontinyu dan berkelanjutan, penilaian kelulusan diharapkan berorientasi pada seleksi dan lulusan diarahkan pada kemampuan yang real bukan semata pada penampilan ijazahnya. Kedua tulisan memiliki kesamaan pandangan untuk meningkatkan mutu pendidikan.


RANGKUMAN DARI TULISAN
1. Estu Retnaningtyas Nugraheni
Judul : Standarisasi Mutu Pendidikan
2. I Nengah Suparta
Judul : Orientasikan Proses Pendidikan pada Seleksi

PERANGKUM :
Made Wiryana

Read More (Lihat lebih Detail)......

Saturday, May 3, 2008

Salonding Riwayatmu Kini


SALONDING menanti generasi muda.

Salonding merupakan gamelan Bali yang usianya lebih tua dari gamelan-gamelan yang kini populer dipakai dalam kesenian maupun dalam upacara adat dan agama. Tidak semua desa di Bali memiliki budaya yang dekat dengan jenis gamelan ini, kecuali beberapa desa tua di belahan selatan dan timur pulau Bali.

Tidak seperti gamelan lainnya yang bilah-bilah perunggu digantung dengan tali sapi pada badan gamelan, pada salonding bilah-bilah perunggu bahkan yang lebih tua bilah bilah besi diletakkan dengan pengunci secukupnya di atas badan gamelan tanpa bilah resonan(bambu resonan) seperti jenis gamelan saat ini.
Dengan suara yang khas, salonding dengan nada klasiknya mengiringi penari rejang dalam "mesolah" persembahan tari dalam upacara yadnya di desa desa tua seperti Tenganan, Bugbug, Asak dan beberapa desa di belahan timur pulau Bali.


Tapi saat ini, gamelan salonding seakan yang dengan tabah mengiringi yadnya sejak ratusan tahun lampau, tidak pernah dilirik sedikitpun oleh generasi muda untuk memukul bilah-bilahnya. Pemukul salonding yang sudah berusia lanjut seakan tak berdaya untuk menarik para pemudanya untuk menggantikan dirinya, karena generasi penerus lebih senang hidup mengikuti gaya hidup modern atau yang tertarik lebih senang memukul bilah-bilah gamelan gong kebyar yang lagi populer.

Siapakah yang akan melanjutkan memukul bilah-bilah salonding jika keadaan tetap seperti ini?

Gemerlap pesta kesenian Bali dengan lomba gong kebyarnya seakan sedetikpun tak menoleh pada salonding. Ataukah salonding ingin dibiarkan menghilang karena peralatan tua harus segera diganti dengan yang baru seperti mengganti sepeda motor Sundap dengan Honda Vario?

Bagaimana dengan yadnya yang diiringi oleh salonding harus diganti dengan kebyar, lenggak lenggok penari rejang klasik diganti dengan rejang dewa atau kontemporer?



Salonding menunggu generasi muda, siapa?

Read More (Lihat lebih Detail)......

Tuesday, April 15, 2008

MISTIK dan FISIKA BARU


MISTIK dan FISIKA BARU


Resensi buku Michael Talbob
Oleh Made Wiryana


Ketika kita dihadapkan pada kejadian-kejadian yang tidak masuk akal, sejuta pertanyaan muncul dalam benak setiap orang. Bagaimana mungkin, seseorang tidak terluka sedikitpun ketika dihujani benda atau senjata tajam, ketika menginjak paku atau pecahan beling dan yang mengejutkan ketika berjalan di bara api yang panas dengan kaki telanjang.
Para ilmuwan mencoba menganalisis gejala-gejala ganjil tersebut tetapi berakhir pada pendapat bahwa itu di luar nalar dan hanya dapat dijelaskan melalui langkah-langkah mistis. Apakah ada penjelasan yang masuk akal terhadap kejadian-kejadian tersebut?

Perdebatan antar ilmuwan terus terjadi antara ilmuwan penganut konsep fisika klasik yang menganggap seluruh kejadian alam ada penyebabnya (hukum kausalitas) dengan ilmuwan penganut konsep fisika kwantum yang tidak terjebak pada pemikiran kausalitas. Akhirnya munculah konsep fisika baru yang menjelaskan kesadaran (pikiran) manusia dapat mempengaruhi realitas (kenyataan).
Michel Talbot (penulis buku ini) seorang fisikawan yang banyak meneliti dan mempelajari fisika serta lama terlibat dengan seorang paranormal, mencoba mencari hubungan kejadian-kejadian ganjil tersebut dengan konsep fisika modern. Talbot berusaha membeberkan sesuatu yang berbau mistis dapat dijelaskan secara rasional dan dia memberikannya istilah “fisika baru”.
Fisikawan klasik menganggap pada setiap percobaan fisika yang mempengaruhi hasil percobaan bukanlah pengamat tetapi materi dan peralatan laboratorium, dari penemuan gejala mekanika kuantum justru kesadaran pengamat mempengaruhi proses percobaan sehingga dalam fisika baru pengamat dipandang sebagai partisipan (yang terlibat) dalam percobaan, dimana kesadaran mempengaruhi realitas atau pikiran manusia dapat mempengaruhi materi (hal.: 27,28). Penulis mengambil contoh, seorang pendeta tua dari suku Tamil di India beserta beberapa anggota sukunya berjalan di atas batu bara yang menyala, mereka tidak merasakan panas pada kakinya tetapi merasa berjalan di atas batu biasa. Kejadian di atas tidak dapat dijelaskan dengan fisika klasik, tapi menurut teori fisika modern (dasar fisika baru) kejadian itu dapat dilakukan oleh siapapun, panas api menjadi tidak terasa karena dihalau oleh kemampuan “kesadaran manusia mempengaruhi realitas”, kesadaran dapat membentuk medan “biogravitasi” yang dapat berinteraksi dan mengubah medan gravitasi yang mengendalikan materi (hal. 89). Pada kasus di atas kemampuan pikiran pendeta Tamil mempengaruhi reaksi subatomic (komponen dalam atom) panas api dan kaki sehingga panas api dapat dihalau.
Melihat kejadian-kejadian aneh seperti : mahluk bertubuh raksasa, hewan menakutkan berkeliaran pada malam hari, api yang muncul dan lenyap seketika atau benda yang berubah wujud, semuanya dapat dijelaskan dengan super-hologram (hologram luar biasa) realitas dalam konsep fisika baru, dimana kesadaran menghasilkan suatu kekuatan atau medan yang mempengaruhi kode “ruang-waktu”. Jika sebuah radiasi elektromagnetik dapat mempengaruhi gambar pada televisi, maka kesadaran dapat pula mempengaruhi kode “ruang-waktu” yang mirip “kromosom” yang kita pahami sebagai benda-benda di atas dan mempengaruhi super hologram realitas (hal. 113).
Dalam buku ini, Michel Talbot memberikan penjelasan bahwa filsafat-filsafat tua seperti : filsafat Tantra, Zen, Taoisme ternyata memiliki persamaan dengan konsep yang dipaparkan fisika baru. Inilah yang mengejutkan, konsep fisika baru yang mungkin tampak aneh dalam pikiran kita justru telah diulas dalam filsafat Tantra, dimana alam semesta bisa dianggap sebagai sebuah emanasi pikiran (hal. 202).
Pada bagian terakhir buku ini menjelaskan tentang suatu “kosmologi baru” atau alam yang baru dimana fisika baru menawarkan seatu landasan ilmiah bagi agama, ini merupakan hal yang baru dalam peradaban barat, dan dampaknya pasti akan dirasakan dalam setiap aspek kehidupan kita (hal. 220). Fisika baru bukanlah suatu agama tapi konsep yang didasarkan pada psikologi kesadaran manusia.
Dengan membaca buku ini kita dapat menyelami bagaimana suatu kejadian ganjil dijelaskan dengan penjelasan fisika modern, suatu yang dianggap “irasional” dijelaskan secara “rasional”. Walaupun Talbot berusaha menggali konsep fisikawan dari era Newton sampai era Einstein, akan sangat lengkap jika mengambil ointisari pemikiran Danah Zohar dalam bukunya berjudul : SQ, Spritual Intelligence, the Ultimate Intellengence (Bloomsbury, London, 2000) yang membahas “Holisme Kuantum” yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.
Buku ini mengandung materi yang sangat sulit dipahami bagi orang yang tidak mengenal istilah-istilah fisika, akan menjadi materi yang sangat bagus dan bermanfaat bagi orang yang tertarik mendapat jawaban ilmiah dari suatu yang dianggap tidak ilmiah,. Proses penerjemahan yang kurang teliti dan terkesan pas-pasan membuat pembaca harus menyediakan “perhatian yang lebih” dalam membaca buku ini.

Read More (Lihat lebih Detail)......

Perdebatan Metodologi dalam ilmu sosial


Pokok – pokok Argumentasi
Perdebatan Metodologi
dalam Ilmu – ilmu Sosial



Disarikan dari berbagai sumber oleh Made Wiryana



Dalam tulisan ini akan diungkapkan pokok-pokok argumentasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli filsafat ilmu, dalam perdebatan metodologi ilmu – ilmu sosial, terutama berkaitan dengan metodologi penelitian ilmu – ilmu sosial. Perdebatan ini dimulai pada dari abad ke – 18 dan sampai sekarangpun masih berlangsung. Perdebatan itu pada hakekatnya adalah pertentangan tentang pembagian kerja ilmu pengetahuan alam (Naturwissenschaften) dan humaniora (Geisteswissenchaften).



UNIFIKASI SCIENCE DAN HUMANIORA : SEBUAH CITA-CITA.
Unifikasi ini dipelopori oleh Max Weber dan kemudian disempurnakan oleh Juergen Habermas sebagai filosuf generasi berikutnya. Beberapa argumentasi atau pemikiran Habermas dapat dinyatakan sebagai berikut.
Juergen Habermas :
· Menentang keberadaan pembagian kerja antara ilmu pengetahuan alam dengan humaniora, dan mencoba melakukan rekontruksi metodologis dengan cara to go beyond Neo-Kantian epistemology. Suatu paham yang dipelopori Rickert dan Windelband.
· Menegaskan ketika ilmu alam dan humaniora mampu hidup berdampingan, baik dalam kondisi saling mengabaikan ataupun kalau tidak dalam situasi saling menunjukkan kehebatannya, tugas ilmu-ilmu sosial harus memecahkan pembagian kerja tersebut menjadi satu atap. Tidak perlu ada lagi pemisahan secara tegas antara apa yang dimaksud dengan logika ilmu (science) dan apa yang dimaksud dengan logika humaniora, kedua logika itu dapat dimanfaatkan dan saling memberikan keuntungan kalau diterapkan dalam memahami realitas sosial.
· Berupaya menentang hegemoni positivisme yang menjelma dalam berbagai dominasi konsep-konsep empiris-analitis dalam ilmu-ilmu sosial dengan cara menunjukkan perlunya mengembangkan text interpreting humanities dalam studi sosial dan kemanusiaan.
· Mampu mengkritik dan merekontruksi pendekatan fenomenologi (Schuetz), etnometodologi (Garfinkel dan Cicourel), permainan linguistik (Wittgenstein dan Winch) dan tradisi hermeneutik (Gadamer). Dengan memahami, membela sekaligus memberi kritik merupakan metode refleksi-diri yang menjadi tulang punggung perkembangan teori kritis Habermas.
· Dengan basis teori kritis, Habermas mampu meningkatkan peran metode interpretif (Verstehen) dan sekaligus mengurangi hegemoni positivisme dalam hal metode empiris-analitis hingga sampai batas yang proporsional.
· Habermas tidak hanya membawa metode ilmu alam (empiris-analitis) dan humaniora (historis-hermeneutik) di bawah satu atap, tetapi juga mengetahui manfaat sekaligus menerima kelemahan keduanya dalam rangka sebagai alat untuk memahami gejala sosial.
· Disamping ada dua metode yaitu metode ilmu alam dan humaniora, Habermas mengembangkan satu lagi metode yang merupakan derivasi dari pendekatan psiko-analisis yaitu metode refleksi-diri yang kemudian melahirkan ilmu-ilmu kritis.

Cita – cita Juergen Habermas menyatukan ilmu pengetahuan alam dengan humaniora menjadi satu atap, sebenarnya sudah dirintis oleh filosuf pendahulunya yaitu Max Weber, seorang pembaharu dari mazab Frankfurt. Beberapa pemikiran Max Weber dijelaskan dalam sub bab berikutnya. Dimana perdebatan metode terjadi sejak abad ke-18 dan awal abad ke-19, dan perselisihan positivisme pada abad ke-20.



PERSELISIHAN METODE DALAM ILMU-ILMU SOSIAL DI JERMAN.
Untuk dapat menyimak dengan baik pemikiran-pemikiran Juergen Habermas, akan lebih baik bila mengetahui sejarah perdebatan metode ini, yang sampai sekarangpun masih berlangsung.
Perdebatan dimulai ketika para filosof menentukan status keilmuan dan metodologi dari disiplin ilmu ekonomi. Perdebatan antara Gustav Schmoller dan Carl Menger. (1870-an dan 1880-an) apakah ilmu ekonomi harus bekerja menurut metode eksakta atau historis, deduktif atau induktif dan abstrak atau empiris. Dengan kata lain ilmu ekonomi merupakan kategori pengetahuan nomotetik atau ideografik.
· Rickert dan Windelband membedakan antara ilmu-ilmu nomotetik yang berdasarkan pada metoda ilmu alam, dan ideografik yang berdasarkan pada humaniora. Nomotetis merupakan pengetahuan yang mencari keteraturan, sedangkan ideografik mencari spesifikasi suatu gejala. Kedua metode ini tidak dapat saling direduksi
· Wilhem Dilthey membedakan Geisteswissenschaften atau ilmu-ilmu sosial budaya dan Naturwissenschaften atau ilmu-ilmu alam.
· Max Weber, menegaskan bahwa ilmu sosial dapat mengambil alih metode ilmu alam sehingga mengusulkan metode Erklaeren, tetapi juga sekaligus dapat menggunakan metode ilmu-ilmu humaniora yaitu metode interpretasi atau Verstehen. Ilmu sosial dapat bersifat bebas nilai (Wertfreiheit) tetapi juga sekaligus menegaskan adanya relevansi nilai (Werturteil) dalam memahami gejala sosial. Pemikiran Weber ini menjadi peletak epistemologi to go beyond Neo-Kantian.



Tapi pada akhirnya kaum positivisme memenangkan perdebatan metodologi ilmu ekonomi, karena dukungan komunitas ilmiah. Sehingga ilmu ekonomi berusaha mensejajarkan diri dengan ilmu alam dengan mengambil alih metode ilmu alam. Para Filosof yang tidak setuju dengan status itu (mereka yang mendukung ilmu ekonomi dengan wawasan historis, seperti Weber) akhirnya terserap dalam sosiologi. Mereka mengembangkan ekonomi dengan wawasan historis dan budaya pada perkembangan lebih lanjut masuk dalam disiplin sosiologi ekonomi. Hegemoni positivisme dalam ekonomi atau sosiologi ditandai dengan dominasi logika deduktif-logis yaitu metode survey dan statistik dalam analisis, bukannya metode historis dan interpretatif.
Juergen Habermas menentang dominasi ini, dia mengakui kehebatan positivisme tetapi sekaligus meletakkan positivisme sesuai dengan porsinya dalam ilmu-ilmu sosial.



KEKUASAAN PEMBANGUNAN, LOGIKA POSITIVISME DAN HEGEMONI METODE SURVAI : SEBUAH PENGALAMAN POLITIK AKADEMIK ORDE BARU
Hegemoni positivisme dalam metode pembangunan dan metode penelitian di Indonesia juga memunculkan beberapa kelemahan seperti yang telah berlangsung selama ini. Beberapa argumen yang disarikan dari buku ini dapat di kemukakan sebagai berikut.
· Hasil penelitian sebenarnya adalah sarana kontrol jalannya pembangunan tetapi di Indonesia fungsi ini tidak ada, malah metode penelitian sering bias kepada prioritas-prioritas pembangunan itu sendiri.
· Pembangunan sangat deterministik terhadap kegiatan akademik dan kurang akomodatif.
· Perbincangan pembangunan mendominasi bidang akademik, target-target pembangunan berdampak pada pemilihan dan penggunaan metode penelitian sosial yang dianggap relevan untuk mendukungnya, dimana metode penelitian empiris-analitis sangat mendominasi.
· Metode survai, statistik atau metode empiris-analitis ini dibuat sedemikian rupa sehingga hipotesisnya mengarah pada generalisasi atau prediksi, ini membuat hasil-hasilnya tidak berpihak pada realita di bawah.
· Karena kepentingan teknis, metode empiris-analitis kurang mampu melakukan refleksi kualitatif perkembangan sosial, sehingga cenderung dipakai sebagai instrumen legitimasi kesuksesan pembangunan dengan cara menunjukkan standar-standar kesuksesan yang bersifat kuantitatif.
· Metode empiris-analitis lebih bersifat melayani pembangunan daripada mengontrolnya.

Apabila pembangunan ke depan lebih menitik beratkan pada kualitas manusia atau manusia sebagai pusat pembangunan, maka perlu memberikan ruang gerak yang lebih lebar kepada metode penelitian historis-hermeneutis dan kritis. Beberapa permasalahan pembangunan justru akan lebih mengenal dengan metode ini.
· Model pembangunan yang menitik beratkan pembangunan manusia seutuhnya mempunyai kepentingan ideologis yang sama dengan metode penelitian historis-hermeneutis dan kritis, yaitu kepentingan praktis dan emansipatoris dalam konteks pembangunan manusia.
· Metode penelitian historis-hermeneutis dan kritis berupaya memahami manusia dari dimensi interaksi sosial budaya baik horisontal (inter-subyek) dan vertikal (kesejahteraan dan aspirasi) dan melalui analisis reflektif berupaya membebaskan manusia dari belenggu ideologis atau struktur politik yang mengungkungnya. Kedua metode penelitian ini bersifat humanis dan dapat menjadi kontrol jalannya pembangunan.
· Penerapan positivisme dapat dibenarkan bila sesuai dengan proporsinya, yaitu sejauh untuk mendapatkan data dan bukan dipakai untuk memprediksidan melalui tekanan politis dipergunakan untuk menentukan jalannya sejarah. Kita dapat menggunakan masing-masing metode (empiris-analitis, historis-hermeneutis dan kritis) secara parsial dan integratif sesuai kasus yang dihadapi.



IMPLIKASI TERHADAP METODE PENELITIAN SOSIAL
Setelah memperhatikan perdebatan metodelogi dan realitas politis di Indonesia persoalan selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan masalah akademik, adalah bagaimana metodologi penelitian sosial diajarkan secara komplit kepada mahasiswa, tidak berat sebelah dan tidak juga mengalami bias positivisme. Untuk itu perlu reformasi substansi metodologi penelitian, dimana taksonomi epistemologi dari Juergen Habermas dapat dipakai acuan yaitu :



Taksonomi Epistemologi Juergen Habermas

Dimensi Kerja Dimensi Kom. Dimensi Kekuasaan

Kepentingan teknis praktis emansipatoris
Pengetahuan informatif interpretatif analisis
Tindakan rasional-tujuan komunikatif emansipatoris
Ungkapan deduktif-nomologis induktif-dialogis perbincangan
Linguistik monologal emansipatoris
Metodologi empiris-analitis historis-hermeneutis refleksi diri
Sistemik Metodis ilmu-ilmu alam & sosial empiris humaniora teori kritis




1. Metodologi penelitian sosial, berisi lebih dari sekedar masalah teknis penelitian tetapi juga mencakup aspek-aspek dan diskursus metodologi penelitian. Antara lain mencakup perdebatan tentang metodologi, positivisme hingga perselisihan metodologi yang sedang berlangsung saat ini.
2. Metode penelitian kuantitatif, bila mengikuti taksonomi mencakup metode penelitian empiris-analitis, yang antara lain mencakup : pemahaman atas logika deduksi, logika survai, termasuk bagaimana survai dikaitkan dengan analisis statistik, bila memungkinkan diajarka bagaimana teknik content analysis.
3. Metode penelitian kualitatif berisikan metode penelitian historis-hermeneutis yang antara lain mencakup logika induksi, deduksi, metode fenomenologi, etnometodologi, hermeneutika, dan interpretasi. Jika memungkinkan metode refleksi-diri (metode kritis).
4. Statistik sosial berisikan materi-materi yang berkaitan dengan teknik-teknik statistik yang relevan dan mutakhir, terutama sebagai penjabaran lebih lanjut dari mata kuliah metode penelitian kuantitatif.

KESIMPULANKU
Dari beberapa argumentasi yang muncul dalam buku yang ditelaah dapat disimpulkan bahwa :
1. Perdebatan metodologi ilmu-ilmu sosial masih berlangsung walau dalam itensitas yang berbeda dengan beberapa abad yang lalu.
2. Pemikiran Juergen Habermas memberikan jalan keluar yang cemerlang untuk mengurangi perdebatan metodologi dan positivisme tersebut dengan melakukan rekontruksi metodologi sehingga muncul metode historis-hermeneutis dan kritis.
3. Pembangunan yang berpusat pada manusia perlu menggunakan metodologi yang mempunyai kesamaan ideologis dengan pembangunan manusia yaitu metode historis-hermeneutis dan kritis.
4. Penggunaan metode empiris-analisis (positivisme) dibenarkan sesuai dengan proporsinya sejauh tidak memprediksi jalannya sejarah apalagi mengeneralisasi semua kasus.
5. Pembelajaran metode penelitian dapat memakai acuan pada taksonomi Juergen Habermas untuk memberikan pemahaman metode penelitian .

Read More (Lihat lebih Detail)......